Penulis : dr. Rizky Firmansyah, Sp.THT.KL (Dokter Spesialis THT RS PKU Bantul)
Hari Sadar Bising Sedunia 2025 menjadi momen penting untuk kembali menyadarkan kita semua akan satu hal yang sering terlupakan: pendengaran yang sehat adalah aset berharga. Sayangnya, kerusakan pendengaran akibat kebisingan sering terjadi tanpa disadari, karena berlangsung perlahan namun pasti.
Sebagai dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT), saya kerap menemui pasien yang menyesal karena terlambat menyadari kerusakan pendengarannya. Yang paling menyedihkan? Banyak dari mereka tidak tahu bahwa suara-suara sehari-hari—yang kita anggap biasa—bisa berdampak buruk jika dibiarkan terus-menerus.
Apa Itu Polusi Suara?
Polusi suara atau kebisingan lingkungan adalah suara yang tidak diinginkan atau mengganggu, yang bisa berasal dari berbagai sumber: kendaraan bermotor, musik keras di headphone, mesin industri, hingga teriakan di ruang kerja.
Suara dengan intensitas lebih dari 85 desibel (dB) berisiko merusak telinga, apalagi jika terpapar dalam durasi lama. Sebagai gambaran:
- Percakapan biasa: 60 dB
- Lalu lintas padat: 85-90 dB
- Konser musik atau headphone full volume: 100-110 dB
- Petasan atau suara ledakan: 140 dB ke atas
Masalahnya, kerusakan akibat bising bersifat permanen. Sekali sel-sel rambut halus di dalam telinga rusak, tidak bisa diperbaiki secara alami.
Tanda-Tanda Pendengaran Mulai Terganggu
Tak semua gangguan pendengaran langsung terasa. Banyak orang baru sadar saat kerusakan sudah cukup berat. Berikut gejala yang perlu diwaspadai:
- Telinga berdenging (tinnitus)
- Sulit menangkap percakapan di tempat ramai
- Sering berkata “Hah?” saat diajak bicara
- Volume TV atau musik yang terus naik
- Merasa telinga penuh atau seperti tersumbat setelah dari tempat bising
- Kalau Anda pernah mengalami salah satunya, jangan anggap sepele. Bisa jadi telinga Anda sedang “meminta tolong”.
Mitos vs Fakta tentang Pendengaran & Telinga
Dalam praktik, banyak kepercayaan yang keliru beredar di masyarakat. Beberapa di antaranya justru bisa membahayakan kesehatan telinga. Yuk, kita luruskan:
- Mitos: Membersihkan telinga dengan cotton bud itu bagus
Fakta: Justru bisa berbahaya. Telinga punya mekanisme membersihkan dirinya sendiri melalui gerakan rahang dan produksi serumen (kotoran telinga). Cotton bud malah mendorong kotoran lebih dalam dan berisiko melukai gendang telinga.
- Mitos: Telinga berdenging itu biasa, nanti juga hilang sendiri
Fakta: Telinga berdenging adalah sinyal adanya gangguan, bisa karena paparan suara keras, tekanan darah, bahkan gejala awal gangguan saraf pendengaran.
- Mitos: Kalau belum tuli, berarti telinga masih sehat
Fakta: Gangguan pendengaran bersifat progresif. Deteksi dan pencegahan sejak dini jauh lebih baik daripada menunggu hingga telinga benar-benar kehilangan fungsi.
- Mitos: Cuma suara keras yang berbahaya
Fakta: Durasi paparan juga penting. Suara yang tidak terlalu keras tapi berlangsung lama bisa tetap merusak.
Kebiasaan yang Bisa Merusak Pendengaran
Tanpa sadar, banyak dari kita melakukan kebiasaan yang bisa merusak telinga:
- Mendengarkan musik terlalu keras lewat earphone
- Bekerja di lingkungan bising tanpa pelindung telinga
- Mengabaikan telinga berdenging
- Sering membersihkan telinga dengan alat yang tidak steril
- Berada di dekat sumber suara keras (pengeras suara, konser, pabrik)
Semua ini jika terus-menerus dilakukan, perlahan akan menurunkan kemampuan mendengar.
Cara Menjaga Kesehatan Telinga
Tak perlu menunggu rusak dulu untuk peduli. Inilah langkah-langkah sederhana yang bisa Anda lakukan:
- Gunakan pelindung telinga saat berada di lingkungan bising (pabrik, konser, proyek bangunan).
- Atur volume perangkat audio di bawah 60%, dan jangan mendengarkan lebih dari 1 jam terus-menerus.
- Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam telinga, termasuk cotton bud.
- Berikan waktu istirahat untuk telinga setelah terpapar suara keras.
- Periksakan telinga secara berkala, apalagi jika Anda sering berada di lingkungan berisik.
Anak-anak Juga Rentan
Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalami gangguan pendengaran akibat kebisingan. Mainan yang mengeluarkan suara nyaring, penggunaan headset berlebihan saat bermain gadget, atau berada di ruang kelas bising bisa berisiko.
Kerusakan pendengaran pada anak akan berdampak besar pada tumbuh kembangnya, terutama dalam hal berbicara dan belajar. Maka penting bagi orang tua untuk lebih peduli pada paparan suara yang dialami anak setiap hari.
Hari Sadar Bising Sedunia: Mengapa Harus Peduli?
Hari Sadar Bising Sedunia diperingati setiap 24 April untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya polusi suara. Di era modern ini, kita hidup dikelilingi kebisingan, dari yang terlihat jelas hingga yang tersembunyi.
Kesadaran adalah langkah pertama. Tindakan nyata adalah langkah selanjutnya. Karena kesehatan telinga bukan hanya soal mendengar, tapi soal kualitas hidup.
Telinga Sehat, Hidup Lebih Nyaman
Bayangkan dunia tanpa suara: tak bisa lagi mendengar tawa anak, sapaan pasangan, atau alunan musik favorit. Pendengaran yang sehat bukan hal sepele. Ia adalah jendela komunikasi kita dengan dunia.
Bising itu nyata. Dampaknya nyata. Tapi kerusakan bisa dicegah, asalkan kita peduli.
Ayo Periksa Telinga Anda Sekarang!
Jangan tunggu sampai telinga Anda berdenging, atau sampai harus bertanya “Kamu bilang apa tadi?”
Periksakan telinga Anda ke Klinik THT RS PKU Bantul. Tenaga medis kami siap membantu Anda mendeteksi dan mencegah gangguan pendengaran sejak dini.
Karena LAYANANKU, IBADAHKU bukan sekadar slogan, tapi komitmen kami untuk merawat telinga dan kesehatan Anda dengan sepenuh hati.
