Daftar Online

PENDAFTARAN ONLINE

Pasang Iklan Paling Murah CT SCAN

CT SCAN

Pasang Iklan Paling Murah Pasang Iklan Paling Murah

BEDAH LAPAROSKOPI

Pasang Iklan Paling Murah Pasang Iklan Paling Murah

KHITAN GRATIS



Artikel

Kisah Sahabat Nabi

Kedermawanan Sahabat Abdurrahman Bin Auf

admin | Kamis, 06 April 2017 - 08:29:53 WIB | dibaca: 321 pembaca

KEDERMAWANAN ABDURRAHMAN BIN AUF

 

Termasyur karena kedermawanannya, dalam satu riwayat disebutkan bahwa dalam sekali infaq mengeluarkan 40 ribu Dinar dan jika dikonversikan dengan Rupiah kira-kira 80 Miliyar. Selain itu, pada suatu perang pernah memberikan 500 ekor kuda. Satu ekor kuda yang berukuran sedang seharga 15 juta rupiah dan untuk yang besar dan bagus harganya ratusan juta rupiah dikali 500 ekor kuda. Harta Abdurrahman bin Auf begitu banyak dan begitu barokah.

 

Bahkan pada suatu kisah, Usman bin Affan sahabat Rasulullah yang kaya raya dan jutawan sempat mengantri ke Abdurrahman bin Auf untuk mendapatkan infaq yang dibagikan dan disedekahkan. Kemudian banyak orang yang bertanya “wahai Usman, kenapa engaku sudah kaya, dermawan tapi kenapa ikut mengantri?”, kemudian beliau menjawab dengan senyum, “Siapa yang tidak ingin mengaliri keluarganya dengan harta dari Abdurrahman bin Auf yang penuh barokah”.  Usman bin Affan ingin keberkahan harta Abdurrahman bin Auf, bukan karena nilainya.

 

Kenapa Abdurrahman bin Auf bisa sukses seperti itu. Kesuksesan Abdurrahman bin Auf dimulai ketika beliau hijrah ke Madinah. Ketika di Madinah, beliau dipersaudarakan dengan sahabat Anshor yang bernama Saad bin Rabbi. Singkat cerita, beliau ditawari beberapa fasilitas oleh Saad bin Rabbi antara lain berupa ladang, rumah bahkan istri. Tapi apa jawaban dari Abdurrahman bin Auf, “Terima kasih saudaraku, semoga kebaikanmu dibalas oleh Allah Subhanahu wa ta’aala, tetapi tunjukkanlah aku jalan ke pasar”.

 

Akhirnya beliau ditunjukkanlah jalan ke pasar, tetapi ketika mau berpisah pada saat menunjukkan jalan ke pasar Saad bin Rabbi mengatakan satu kalimat, “Jika seorang laki-laki belum menikah maka belum dianggap sebagai seorang  yang mempunyai harga diri. Pada saat itu Saad bin Rabbi berkata “Ya sudah, jika tidak mau diberi apa-apa yang penting kamu menikah saja karena menikah merupakah sesuatu yang akan memberikan harga diri di sini.” Kemudian Abdurrahman bin Auf menjawab “Terima kasih, Saad bin Rabbi, Insya’allah satu bulan lagi saya akan menikah.”

 

Akhirnya Abdurrahman bin Auf ditunjukkan jalan ke pasar dan beliau beliau memulai bekerja. Hari pertama menjadi kuli, hari ke dua menjadi pedagang paling jujur, paling informatif dan paling bening dalam menimbang. Sampai saat beliau menjadi panglima perdagangan yang kemudian mengamalkan surat Al-Muthafifin yang turun sebelum hijrah. Kemudian sampai hijrah surat Al-Muthafifin masih diamalkan oleh Abdurrahman bin Auf. Surat Al-Muthafifin berisi kecurangan dalam menakar, pada saat itu kaum Yahudi begitu curang menakar. Apalagi pada saat berhadapan dengan kaum muslimin. Jadi visi Abdurrahman bin Auf berdagang yaitu untuk menghancurkan semua kemaksiatan-kemaksiatan dalam perdagangan dan kemudian beramal ma’ruf dan nahi munkar dalam sisi dakwah perdagangan. Akhirnya luar biasa bisnisnya terus menerus tumbuh, sampai 30 hari kemudian Abdurrahman bin Auf Abdurrahman bin Auf dengan senyum-senyum dan mengajak Rasulullah dengan penuh minyak wangi dengan berkata “Ya Rasulullah, saya sudah menikah.” Rasulullah kemudian bertanya “Siapa yang kau nikahi?”. Abdurrahman bin Auf menjawab “Saya menihak dengan wanita Anshor dengan emas kawin sebesar biji kurma.” Kemudian Rasulullah menyuruh Abdurrahman bin Auf  dengan berkata “Ya sudah, jika kamu sudah menikah maka selenggakarakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing”.

 

Luar biasa, inilahs seklumit kisah yang dari Abdurrahman bin Auf yang kemudian menjadikan beliau orang yang kaya raya dan sukses dalam berbisnis maupu berdakwah. Ada 3 (tiga) hal yang dapat kita pelajari dan analisa dari kisah tersebut, yaitu:

 

Etos kerja

Etos kerja menjadi kunci sukses dalam bekerja di dalam organisasi manapun. Contoh dari kisah Abdurrahman bin Auf ditawari berbagai fasilitas yang memudahkan, beliau ditawari sedemikian rupa harta, istri, tempat tinggal dan sebagianya, namun beliau menolaknya. Abdurrahman bin Auf tidak memilih itu semua, karena bagi beliau fasilitas yang ada itu ternyata bisa jadi akan melemahkan semangat etos kerjanya.

 

Hal ini juga yang dilakukan oleh Thoriq bin Jiyad panglima perang yang kemudian menyerang bangsa Andalusia dan setelah semua pasukannya sudah berada di pulau Andalusia dan semua pasukan turun dari kapal maka Thoriq bin Jiyad membakar habis kapal dan perbekalan dan berkata “jika Kapal itu masih singgah di hatimu, maka akan menjadi kunci kekalahanmu, karena engkau masih ada pilihan untuk lari, ketika tidak ada kapal, maka engkau akan bekerja keras dan akan berjihad dan hanya ada dua pilihan yaitu mati syahid atau menang. Kemudian dia membangkitkan pasukannya menjadi semangat yang luar biasa. Ini yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf, fasilitas yang ditawarkan oleh sahabatnya ditinggalkan dan akhirnya membangkitkan dirinya untuk berusaha sekuat tenaga.

 

Visi Ilahiah

“Ketika beliau berdagang, kemudian mengahancurkan hegemoni dari Yahudi, setelah itu mengamalkan surat Al-Muthafifin”. Visinya jelas yaitu visi yang islami dan Ilahiah. Jika ini menjadi visi kita bersama untuk pribadi kita masing-masing ini akna menjadi kunci kesuksesan karena visi Ilahiah inilah yang kemudian menjadi aset bagi kita untuk mendatangkan pertolongan Allah Subhanahu wa taala.

 

Orang lain mungkin bisa kerja keras, orang lain mungkin perencanaannya bagus, tetapi kalau visinya bukan visi Ilahiah maka aset pertolongan Allah Subhanahu wa taala ini tidak akan datang, ini yang kemudian membuat Abdurrahman bin Auf ini pertolongan Allah Subhanahu wa taala yang luar biaa, bahkan orang menjulukinya “Batu itu kalau diletakkan oleh Abdurrahman bin Auf, maka bawahnya terdapat emas. Karena begitu tangan beliau ditaruhkan untuk memberikan rizki.

 

Perencanaan

Perencanaa menjadi kunci sukses Abdurrahman bin Auf. Dari seklumit kisah Abdurrahman bin Auf, beliau awalnya mengatakan, “30 hari lagi saya akan menikah.” Inilah perencanaan yang luar biasa yang disusun oleh Abdurrahman bin Auf dari satu sisi itu. Mungkin dari sisi perdagangan luar biasa perencanaan-perencanaan beliau yang kemudian menghasilkan. Luar biaa, Abdurrahman bin Auf mengatakan 1 bulan perencanaannya maka terlaksana juga perencanaan Dari beliau. Ini perencanaa atau planning yang menjadi kunci kesuksesan dari beliau. Abdurrahman bin Auf dari sisi perencanaan tersebut menggambarkan bahwa hidupnya terencana sehingga bisnisnya terencana sehingga menghasilkan. (Muhammad Nur S)