Daftar Online

PENDAFTARAN ONLINE

Pasang Iklan Paling Murah CT SCAN

CT SCAN

Pasang Iklan Paling Murah Pasang Iklan Paling Murah

BEDAH LAPAROSKOPI

Pasang Iklan Paling Murah Pasang Iklan Paling Murah

KHITAN GRATIS



Artikel

Kajian Muamalah

Etika Menasehati

admin | Kamis, 28 Juli 2016 - 08:14:12 WIB | dibaca: 171 pembaca

Harun ibnu 'Abdillah, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota baghdad, bercerita:

Suatu hari, saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk, “siapa?” tanyaku. “Ahmad” jawab orang di luar pelan. “Ahmad yang mana?” tanyaku makin penasaran. “Ibnu Hanbal” jawabnya pelan. “Subhanallah, itu guruku!” kataku dalam hati. Maka, kubuka pintu. Kupersilahkan beliau masuk dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya. Saat ku persilahkan untuk duduk, beliau menjaga beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suaranya.

“Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini?” “Maafkan aku, ya Harun. Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini maka akupun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi".

Aku terkejut sejak siang? “Apakah itu, wahai guru?” “Mmmm begini!” suara Ahmad Ibnu Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik. “Siang tadi aku lewat disamping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid- muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadis-hadis sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan. Lain kali, janganlah seperti itu,  wahai Harun! Duduklah dalam keaadaan yang sama sebagaimana murid- muridmu duduk!”

Aku tercekat, tak mampu berkata, maka beliau berbisisk lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat, dan menutup pintu hati-hati. Masya Allah!

Inilah guruku, Ahmad Ibnu Hanbal, begitu mulia akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat. Beliau bisa saja meluruskannya langsung saat melintasi majelisku, Tapi itu tidak di lakukannya demi menjaga wibawaku di hadapan murid- muridku.

Beliau juga rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku. Bahkan, beliau berbicara dengan suara yang sangat pelan dan berjingkat saat berjalan agar tidak ada anggota keluargaku yang terjaga, Lagi-lagi, demi menjaga wibawaku sebagai imam dan teladan bagi keluargaku.

Dari kisah di atas, kita bisa belajar bagaimana arifnya Ahmad Bin Hanbal, seorang imam mahzab menyampaikan nasihat kepada muruidnya sendiri. Nasehat bukan menunjukkan diri yang paling benar, nasihat bukan untuk menunjukkan eksistensi diri atau arogansi.

Sering kali kita lupakan etika dalam menyampaikan nasihat. Nasihat hanya bisa di terima oleh hati yang benar-benar menginginkan kebaikan bagi orang yang di nasehati. Jika nasihat yang disampaikan hanya untuk mempermalukan diri orang lain, niscaya nasihat tak lebih hanya akan menjadi bibit kebencian dan permusuhan.

Teringat perkataan Imam Asy Syafi'i, “Nasihati aku saat sendiri, jangan di saat ramai dan banyak saksi.  Sebab, Nasihat di tengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak maka maafkan jika hatiku berontak”. Sumber: Republika 2016